Review Film Sissy: Kisah Perundungan yang Dikemas Horor dan Komedi

Tak Berkategori

TEMPO.CO, Jakarta – Film yang menceritakan kasus bullying belakangan mulai sering menjadi pilihan sineas untuk berkampanye melawan perundungan. Pun demikian dengan kehadiran Sissy, film buatan Australia. Film yang dirilis tahun lalu ini menghadirkan tragedi, dark humor dan slasher tapi dikemas dengan suasana ceria. Sissy merupakan film horor komedi. Bahkan musik yang dihadirkan pun tidak dibuat dalam suasana seram.

Film ini menceritakan tentang sosok Cecilia, yang akrab dipanggil Sissy, bertemu secara tak sengaja dengan sahabat masa kecilnya Emma. Pertemuan itu membahagiakan Emma yang langsung mengajak Sissy hadir ke pesta pertunangannya dengan Fran. Sissy tidak menolak, dan mereka sangat menikmati kebersamaannya di pesta tersebut.

Setelah pesta usai, Emma mengenalkan Sissy kepada teman-teman dekatnya yaitu Tracey, Jamie dan Alex. Pertemuan Sissy dengan Alex memicu hal-hal yang terpendam dalam dirinya yang terpendam, sehingga suasana terasa mencekam. Alex adalah orang yang sering merundung Sissy di masa kecil.

Film Sissy Kombinasi Jumpscare yang Pas, Detail, tapi Ceria 

Film Sissy sudah bisa disaksikan secara legal di Klik Film mulai bulan ini. Adegan yang dipertontonkan sungguh sadis dengan detail mengerikan dan mampu membuat penonton tidak nyaman. Namun, konsepnya terasa ceria dan sesekali menegangkan. Uniknya, musik yang dipiliih terdengar ceria. Penempatan jumpscare di film ini juga sangat pas, sehingga sulit ditebak. 

Aisha Dee, yang berperan sebagai Sissy berakting sangat luar biasa. Karakternya memberi nuansa berbeda pada film slasher ini. Ekspresinya mungkin tidak berbeda 180 derajat dan tidak membuat terasa creepy tetapi justru di sinilah kekuatan film ini. Penonton tidak dapat menduga bahwa ia akan melakukan hal melebihi bayangan kita.

Adegan di Film Sissy. Foto: Klik Film.

Di awal ia terlihat innocent dan membuat simpati tetapi ketika titik pemicunya sudah keluar, ia tidak bisa dihentikan. Bahkan, transisinya dari karakter satu ke yang lainnya sangat halus sehingga tidak bisa dibedakan dalam kondisi saat ini.

Iklan

Hannah Barlow yang merangkap jabatan sebagai sutradara dan memerankan tokoh Emma, posisinya terlihat abu-abu dari awal. Ia berusaha membela Cecilia, tetapi di sisi lain ia tetap terasa berusaha mempertahankan posisinya di antara teman-temannya.

Korban Pembullyan Jadi Lebih Kejam dari Pelakunya 

Pesan moral maupun sosial yang ada dalam film ini pun cukup penting dan terasa bersinggungan dengan situasi saat ini. Selain tentang bullying tetapi juga bagaimana karakternya yang banyak diidolakan di media sosial biasanya menyimpan sisi lain yang tersembunyi dan bertolak belakang. Dan ia menyembunyikannya dengan sangat baik. 

Di sisi lain karakter-karakter lain dalam film ini pun tidak bisa dibilang menyenangkan. Sebagian besar dari mereka lebih memihak si pelaku perundungan, demi untuk mempertahankan persahabatan mereka. Tema ini sering kita lihat dalam film, yakni mereka yang menjadi korban perundungan kemudian hari menjadi lebih kejam dari pelakunya. 

Hannah Barlow tak hanya bermain film dan menjadi sutradara. Ia juga penulis skenario film Sissy bersama Kane Senes. Sedangkan dijajaran pemain terdapat nama Aisha Dee, Hannah Barlow, Emily De Margheriti, Daniel Monks, Yerin Ha dan Lucy Barrett.

Pilihan Editor: Walnut Tree, Kisah Pilu Seorang Ayah Asal Suku Kurdi Selamatkan Keluarga dari Bom Kimia



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *